Minggu, 01 Mei 2022

Mari Tuntaskan Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta




Penyakit Kusta adalah salah satu penyakit yang sangat ditakuti dan dihindari orang. Negara Indonesia hingga saat ini sedang berkecambuk dengan pasien kusta dan penyandang disabilitas karena kusta. Bagaimana tidak bisa menghadapi berbagai kesulitan? Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah terkait akses terhadap layanan kesehatan yang layak dan minimnya informasi tentang tata cara perawatan dan penanganan pasien kusta. Sehingga unit pelayanan kesehatan pun fokus kepada permasalahan yang tengah dihadapi. 

Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan
Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan





Seperti yang kita ketahui beberapa tahun belakangan ini negara kita konsentrasi menuntaskan pandemi. Pasalnya, tidak semua unit layanan kesehatan memahami informasi tentang kusta dan masih tingginya stigma terhadap kusta di kalangan tenaga kesehatan itu sendiri, sehingga orang dengan kusta tidak mendapatkan layanan yang optimal dan enggan berobat. 



Hal ini tentu akan memperparah kondisinya, karena selain berisiko menyebabkan disabilitas, orang dengan kusta yang tidak diobati akan dapat menularkan bakteri kusta kepada lingkungan sekitarnya. Sebuah kesempatan besar saya bisa ikutan menyaksikan live streaming membahas tentang "Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan" yang diprakarsai oleh Ruang Publik KBR dan  penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen. Serta menghadirkan narasumber yang sangat berpotensial ada dr. M Riby Machmoed MPH - Technical Advisor Program Leprosy Control, NLR Indonesia dan Sierli Natar,S.Kep - Wasor TB/Kusta, Dinas Kesehatan Kota Makassar.


Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan
dr. M Riby Machmoed MPH - Technical Advisor Program Leprosy Control, NLR Indonesia dan Sierli Natar,S.Kep - Wasor TB/Kusta, Dinas Kesehatan Kota Makassar




Di berbagai daerah, pasien kusta, penyandang disabilitas karena kusta seringkali masih menghadapi kesulitan dan tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang layak dan minim informasi terkait tata cara perawatan dan penanganan pada pasien kusta. Bagaimana upaya pencegahan preventif pada kusta dilakukan? Seperti apa dinamika yang terjadi pada upaya edukasi perawatan diri dan pencegahan disabilitas pada kusta? 





Apa itu Penyakit Kusta?

Banyak warga awam yang masih belum tahu apa itu penyakit kusta. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit yang dapat menular dan termasuk penyakit kusta infeksi kronis namun dapat disembuhkan. Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae yang sangat mempengaruhi kulit, mata hidung dan saraf perifer. Mendengar penyakit begini pun kita pasti worry dan selfsafe supaya tidak tertular penyakit ini.



Untuk menghindari penularan penyakit kusta ini perlu diketahui ciri-cirinya mengantisipasi. Seperti yang disampaikan Dokter Riby bahwa penyakit kusta ditandai dengan munculnya bercak-bercak berwarna terang atau kemerahan di kulit disertai dengan berkurangnya kemampuan merasa, mati rasa, dan lemas pada tangan dan kaki. Bercak ini dapat muncul dalam bentuk dan warna yang berbeda seperti pausi basiler (PB) dengan ciri bercak berwarna putih dan multi basiler (MB) dengan ciri bercak yang muncul berwarna kemerahan  dan disertai penebalan pada kulit.



Dokter Riby menjelaskan lebih detail untuk mencegah disabilitas akibat kusta perlu langsung memeriksakan gejalanya ke tenaga kesehatan agar segera diobati. Yang paling penting adalah pencegahan terhadap kecacatan, segera mendatangi layanan kesehatan karena sekarang ini negara kita sudah memiliki obat penanganan pada penyakit kusta supaya tidak timbul cacat.



Adapun penyakit kusta menularnya lewat udara dan kontak erat minimal 20 jam dalam satu minggu berturut-turut (dengan pasien yang belum berobat). Kalau ada gejala-gejala yang muncul tidak sewajarnya langsung ke layanan kesehatan. Jadi kalau sekadar berpapasan atau duduk bersebelahan sebentar ya tidak menular, apalagi kalau pasien sudah berobat. Dan untuk pasien kusta yang sudah berobat, orang-orang yang kontak erat atau orang yang serumah dengan pasien juga diberikan obat agar tidak tertular. 



Cara penanganan kusta yakni dengan 3 cara : 
1. Selalu diperiksa, bahkan setelah pengobatan pun mesti rutin mengecek minimal 3 bulan sekali. Karena kemungkinan kusta nya bisa kambuh lagi. 

2. Jika ada kelainan dirawat, dan dilindungi. 

3. Penderita penyakit kusta juga sangat perlu melakukan perawatan mandiri. Seperti kalau ada luka bisa ditutup pakai kain perca. 

 



Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan
 


Jadi aman nggak perlu takut kalau salah satu keluarga terpapar penyakit kusta. Sekarang yang perlu dipahami dan dimegerti bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang bisa disembuhkan. 



Tapi apakah kita hanya selalu mengharapkan dan berdiam diri tanpa bertindak menuju kesembuhan dari penyakit kusta? Stigma kusta di masyarakat masih sangat kuat, sehingga Ibu Sierli mengatakan bahwa pasien kusta dan penyandang disabilitas karena kusta, masih menghadapi berbagai kesulitan akan layanan kesehatan khususnya di berbagai daerah. 


Adapun penyakit kusta menularnya lewat udara dan kontak erat minimal 20 jam dalam satu minggu berturut-turut (dengan pasien yang belum berobat)
Seminar Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan




Salah satu kesulitan yang dihadapi adalah terkait akses terhadap layanan kesehatan yang layak dan minimnya informasi tentang tata cara perawatan dan penanganan pasien kusta. kemungkinan besar minimnya fasilitas dan informasi tentang penanganan penyakit kusta. Selain itu banyaknya pemikiran masyarakat bahwa penyakit kusta itu penyakit yang diajuhi, dimusuhi dan ditakuti orang.



Dan semua keraguan itu terjawab dengan hadirnya Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan. Dan hal ini menjadi stigma baru dalam negara kita yang perlu dan sangat perlu diperhatikan.



Perlu kita ketahui apakah saat ini semua unit layanan kesehatan memahami informasi tentang kusta dan masih tingginya stigma terhadap kusta di kalangan tenaga kesehatan itu sendiri, sehingga orang dengan kusta tidak mendapatkan layanan yang optimal dan sungkan berobat. Supaya hal ini tidak memperparah kondisi penderita kusta supaya tidak terjadi kecacatan. Karena selain berisiko menyebabkan disabilitas, orang dengan kusta yang tidak diobati akan dapat menularkan bakteri kusta kepada lingkungan sekitarnya. 



Stigma minimnya pelayanan penanganan penderita penyakit kusta menjadi satu tantangan yang dihadapi dalam menangani pasien adalah pasien tidak mau menerima sehingga motivasi sangat diperlukan dalam hal ini. Oleh sebab itu perlu inovasi dan edukasi akan informasi semakin gencarnya edukasi tentang Dinamika Perawatan diri dan Pencegahan Disabilitas pada Kusta di Lapangan. Sehingga penanganan penyakit kusta bukan menjadi permasalahan berat di negara Indonesia. Dan dengan adanya layanan kesehatan penderita kusta menjadikan pasien mau melihat dan merawat mandiri, serta keluarga mau mendukung karena tanpa dukungan keluarga, pasien akan merasa terkucilkan.



hai ini  tidak hanya tugas institusi terkait akan tepai menjadi tugas kita bersama semua pihak. Supaya penderita penyakit kusta tidak merasa dikucilkan. Akan tetapi penderita kusta bersemangat demi kesembuhan penyakitnya. 

11 komentar:

Elisa mengatakan...

Memang kadang stigma masyarakat justru yang paling bikin serem ya, Mbak. Padahal kalau kita bisa menjaga diri, sedikit interaksi dengan penyandang kusta juga nggak apa-apa. Kasihan juga melihat kebanyakan penderita kusta justru dikucilkan.

Anita Makarame mengatakan...

Berarti sudah harus mulai disosialisasikan dari tingkat RT, RW, kader posyandu/posbind, dst. Karena saat ini di sini masih terfokus pada stunting dan penyakit degeneratif seperti pengukuran tensi, kolesterol, dll.

Seandainya mulai disosialisasikan kusta juga, mungkin masyarakat akan mulai paham.

Yosfiqar Iqbal mengatakan...

Memang perhatian untuk kasus-kasus seperti ini bukan hanya untuk penderita, enggak kalah penting adalah edukasi untuk yang masyarakat yang sehat agar enggak ada diskriminasi atau stigma apa pun.

Tukang Jalan Jajan mengatakan...

dengan pengobatan tuntas dan selesai sampai sembuh, penyintas juga bisa hidup normal dan tetap berdaya. Masyarakt harus mendapat edukasi tentang ini supaya jauh dari diskriminasi

Jiah Al Jafara mengatakan...

Nah betul. Kita harus tahu informasi soal kusta. Penyakit ini memang menular, tapi bisa diobati. Jadi harus lebih peduli. Berobat jika sakit dan jangan kucilkan mereka

April Hamsa | Mom Blogger mengatakan...

Ini edukasi yang bagus krn dulu masyarakat emang selalu mendeskreditkan penderita walaupun kdng udah jd penyintas tp msh dipandang gmn gtu. Edukasi kyk gini ngasi tau kalau kusta bisa disembuhkan dan penyintasnya bisa hidup layak dan punya kemampuan bekerja dan memperbaiki kualitas hidupnya lagi ya. TFS.

Rudi G. Aswan mengatakan...

Iya, Kak. Amat disayangkan penyakit kusta masih berkelindan karena dianggap sebagai momok. Penderita sering tak tahu mereka mengidap kusta sehingga tak mendapat pengobatan yang semestinya. Padahal akses pada layanan kesehatan tersedia dan bisa dimanfaatkan secara cuma-cuma. Acara seperti ini bagus buat mengedukasi publik bahwa kusta bisa disembuhkan dan ga perlu dianaktirikan dalam masyarakat.

lendyagassi mengatakan...

Edukasi mengenai penyakit kusta agar tidak disalahpahami lagi sebagai penyakit kutukan dan bahwa kusta bisa disembuhkan asal diketahui sejak dini menggunakan konsumsi obat secara teratur.
Edukasi yang terus menerus agar semakin banyak masyarakat yang membaca dan memahami dengan baik. Sehingga bisa disebarkan dari mulut ke mulut dan menenangkan banyak pihak.

Nyi Penengah mengatakan...

Edukasi dan literasi mengenai kista harus menyeluruh nih ya Kak. Biar makin banyak yang memahami bahwa itu bukan penyakit yang harus bikin orang menjauhi si penderita. Makasih postingannya ya Kak.

Dian farida ismyama mengatakan...

Ternyata menularnya kalo kontak lama ya kak 20 jam itu lama lho seminggu berturut-turut pula. Tapi masih banyak orang yang parno baru ketemu sekali takut tertular

Ahmad Budairi mengatakan...

Edukasi terkait kusta memang harus terus digaungkan agar orang dengan kusta bisa tetap hidup berdampingan dengan sehat dan bahagia. Apalagi stigma kista adalah kutukan sangat melekat di beberapa daerah. Terus kampanyekan ttg kusta ya, kak, agar orang dengan kusta tetap mendapatkan haknya sebagai manusia.

5 Tips Menjaga Kesehatan Mental Bersama Cokelat Premium Lokita Indonesia

Kesehatan Mental adalah kunci utama dalam menjalani hidup. Ibarat kata kalau putus harapan sama saja tidak punya tujuan hidup. Kalau kita na...